Rabu, 04 Maret 2015

Ingin Diet Tinggi Protein? Coba Konsumsi ini..

makanan tinggi proteinSebagian orang ingin menurunkan berat badannya dengan cara melakukan diet tinggi protein. Diet tinggi protein juga dinilai baik untuk membentuk tubuh lebih ideal. Dari istilahnya saja, diet tinggi protein mengacu pada penerapan pola makan secara khusus, yakni cenderung mengonsumsi makanan-makanan berprotein tinggi. Namun demikian, orang-orang yang menerapkan diet ini harus jeli dalam memilih menu makanan yang akan disantapnya. Mereka juga tidak bisa sembarangan untuk memulai dan melakukan diet ini. Dibutuhkan disiplin yang ketat sekaligus pemilihan makanan yang tepat agar hasilnya maksimal tanpa mempengaruhi kesehatan tubuh.

Menu diet tinggi protein yang disarankan

Berikut ini ada beberapa menu ideal makanan-makanan berprotein tinggi yang disarankan oleh dr. Nadia Octavia dari KlikDokter.com, diantaranya adalah :
Daging merah
Daging merah seperti sapi bisa menjadi pilihan menu diet ini, namun pilihlah daging yang rendah lemak seperti daging has dalam, di mana kadar lemak tak jenuhnya jauh lebih sedikit. Anda juga disarankan untuk menghindari daging olahan.
Daging putih
Daging putih seperti ayam atau unggas mempunyai kadar lemak lebih sedikit dibandingkan daging merah. Maka daging ini ideal untuk dilibatkan dalam program diet tinggi protein yang anda lakukan. Namun penting untuk diingat bahwa kulit dari daging putih mengandung lemak jenih, jadi sebaiknya hindari mengonsumsi kulitnya.
Ikan
Tidak hanya tinggi protein, ikan mempunyai kadar lemak yang rendah. Walaupun sebagian ikan seperti tuna atau salmon mempunyai kadar lemak yang tinggi, akan tetapi lemak yang dimaksud adalah asam lemak omega-3 yang justru bermanfaat bagi kesehatan jantung.
Telur
Walaupun mengandung kolesterol, namun mengonsumsi sebutir telur per hari masih cukup aman untuk orang dewasa. Jika mau, anda bisa mengonsumsi putih telurnya saja karena mengandung protein yang sangat tinggi daripada kuning telur yang mengandung kolesterol.
Kedelai
Tempe dan tahu adalah sumber protein nabati yang sangat baik. Makanan-makanan berbahan dasar kedelai bisa membantu anda untuk menurunkan berat badan. Memasukkan tempe dan tahu ke dalam daftar menu makanan harian anda merupakan pilihan yang tepat.
Kacang-kacangan
Mengonsumsi 1 1/2 cangkir kacang-kacangan per hari setara dengan 3 gram protein yang ada pada steak. Kacang-kacangan membantu anda untuk merasa kenyang lebih lama serta membantu menurunkan kadar kolesterol.
Produk susu
Susu dan produk-produk susu lainnya seperti yogurt dan keju mengandung protein yang tinggi. Selain itu, makanan-minuman tersebut juga kaya akan kalsium yang sangat baik bagi jantung dan tulang. Namun demikian, pastikan memilih produk susu yang rendah lemak dan rendah kalori agar kesehatan tubuh anda tetap terjaga.

5 Cara Sederhana Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

menurunkan tekanan darah tinggiTekanan darah tinggi merupakan masalah umum yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit serius seperti stroke, serangan jantung, dan penyakit kardiovaskular. Tekanan darah tinggi terjadi pada 1 dari setiap 3 orang dewasa. Obat-obatan telah lama digunakan sebagai solusi, namun ada juga beberapa cara sederhana yang dapat mengontrol dan menurunkan tekanan darah tinggi.
Metode murah ini meliputi olahraga, menjaga berat badan, dan perubahan gaya hidup yang dapat mengontrol hipertensi. Para ahli percaya bahwa gaya hidup sehat dapat mencegah dan melawan hipertensi.

Cara Sederhana Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Olahraga
Olahraga rutin merupakan cara yang efektif untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Dianjurkan untuk melakukannya beberapa kali dalam seminggu, kurang lebih selama 30 hingga 60 menit setiap kali berolahraga. Aktivitas seperti ini dapat menurunkan tekanan darah sebesar 4-9 mmHg. Seseorang dengan hipertensi harus sering terlibat dalam aktivitas fisik. Hal ini juga berlaku bagi pasien prehipertensi demi menghindari terjadinya hipertensi. Olahraga juga dapat membantu mengurangi berat badan, di mana berat badan berlebih sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi.
Hindari alkohol
Mengonsumsi alkohol tidak baik bagi kesehatan dan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi yang pada akhirnya akan memperbesar risiko terjadinya hipertensi. Jadi, jauhkan diri anda dari minuman beralkohol.
Mengurangi berat badan
Kenaikan berat badan menjadi salah satu faktor penyebab hipertensi. Mengurangi berat badan walau hanya beberapa kilogram saja sudah dapat menurunkan tekanan darah yang tinggi. Pinggang adalah indikator yang baik terhadap berat badan. Bertambahnya ukuran lingkar pinggang bisa menjadi alarm akan datangnya hipertensi. Pada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas, semakin banyak berat badannya berkurang, maka tekanan darah juga akan ikut berkurang. Untuk mewujudkannya bisa dilakukan dengan pola makan sehat, diet, ataupun berolahraga.
Mengurangi asupan sodium (natrium)
Mengurangi asupan natrium bisa membantu menurunkan tekanan darah. Umumnya, natrium dikaitkan dengan makanan yang tinggi garam, walaupun terkadang keduanya tidak selalu berjalan berdampingan. Garam yang biasa kita kenal terdiri dari 40 persen natrium, dan sisanya adalah ion klorida. Agar kesehatan tubuh selalu terjaga dan terhindar dari naiknya tekanan darah, asupan natrium yang direkomendasikan adalah 2300 miligram atau kurang. Bagi orang-orang yang berusia lebih dari 51 tahun keatas, asupan harian yang direkomendasikan adalah 1500 gram atau kurang.
Hindari stres
Stres merupakan faktor penting dari beberapa penyakit dan juga sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi. Kecemasan dan stres dapat menyebabkan naiknya tekanan darah walau sifatnya hanya sementara. Maka dari itu, usahakan jangan sampai stres. Latihan pernapasan merupakan salah satu cara terbaik untuk mengatasi stres dan dapat mengurangi risiko hipertensi. Pasien dengan tekanan darah tinggi sangat disarankan untuk mencari bantuan dari seorang konselor profesional.

Jantung Sering Berdebar Cepat? Waspadai Hipertiroid

Jantung berdebar adalah tanda cepatnya metabolisme dalam tubuh. Salah satu pemicu percepatan detak jantung adalah karena adanya gangguan pada kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid yang dapat menstimulasi metabolisme setiap sel di dalam tubuh.

Hipertiroid dan peningkatan metabolisme

hipertiroid - gejala detak jantung cepatRangsangan tersebut akan semakin besar apabila hormon tiroid yang dihasilkan juga semakin banyak. Akibatnya, metabolisme pun akan semakin cepat. Hal inilah yang dapat menyebabkan seseorang mengalami kondisi hipertiroid dan membuatnya mengalami deg-degan.
Dilansir dari Kompas Health, menurut Tri Juli Edi Tarigan, seorang ahli endokrin dari FKUI-RSCM, peningkatan metabolisme adalah salah satu gejala hipertiroid. Hipertiroid merupakan suatu kondisi di mana terjadi kelebihan produksi dan distribusi hormon tiroid. Hal ini berbeda dengan tiroitoksikosis. Walaupun mirip, tiroitoksitosis adalah kelebihan hormon tiroid yang tidak selalu diproduksi kelenjar tiroid. Hormon ini dapat dihasilkan oleh kelenjar lainnya yang tumbuh namun juga menghasilkan tiroid. Keduanya mempunyai gejala yang sama, yakni peningkatan kecepatan metabolisme tubuh.
Tri menjelaskan, Hormon tiroid yang mendominasi tubuh manusia ada dua jenis, yaitu T3 dan T4. Hormon T3 merupakan kependekan dari triiodothyronine, sedangkan T4 merupakan kependekan dari thyroxine. Sebelum dilepaskan ke dalam darah, hormon T4 diubah menjadi T3 terlebih dahulu. Hormon T3 lebih aktif untuk mempengaruhi metabolisme dalam tubuh.
Jumlah hormon tiroid yang diproduksi setiap orang tidaklah sama. Maka dari itu, kategori berlebih dalam hipertiroid juga berbeda pada setiap orang. Hal ini tergantung dari metabolisme dan tempat seseorang memeriksakan hormon tiroidnya. Walaupun jumlah hormon tiroid berbeda, gejala hipertiroid pada setiap orang adalah sama, seperti diare, rambut rontok, berat badan terus turun, dan emosi labil.
Tri menjelaskan, sampai saat ini masih belum diketahui penyebab awal mengapa produksi dan distribusi hormon tiroid bisa berlebih. Namun ada beberapa keadaan yang bisa menyebabkan perubahan produksi maupun distribusi hormon tiroid, yakni penyakit graves dan TMNG (Toxic Multinodular Goiter). Graves lebih sering ditemukan pada pasien hipertiroid dengan prosentase 80-90 persen.
Graves merupakan penyakit autoimun yang diakibatkan oleh hilangnya sensitivitas kelenjar tiroid pada TSH (Thyroid Stimulating Hormone). Hal ini menyebabkan produksi tiroid tetap tinggi kendati TSH dihasilkan dalam jumlah yang rendah. Penyakit ini memungkinkan untuk diturunkan secara genetik, dan umumnya sering terjadi pada wanita.
Sementara itu, TMNG merupakan kondisi ketika kelenjar tiroid sudah semakin tua hingga menggumpal. Gumpalan tersebut bisa jadi ada yang bersifat otonomi, sehingga dapat menghasilkan hormon tiroid secara bebas. Hal ini pada akhirnya akan menyebabkan berlebihnya hormon tiroid dalam tubuh.
Meskipun tidak diketahui penyebabnya, namun hipertiroid masih bisa tetap dicegah. Kendati tidak bersifat spesifik, namun upaya yang bisa dilakukan meliputi peningkatan kesehatan secara umum. Misalnya adalah mengurangi konsumsi kopi dan iodin, terutama yang sering berdebar-debar. Pencegahan harus dilakukan terutama pada orang yang mempunyai keturunan hipertiroid.
Hipertiroid tidak menyerang golongan tertentu, dan bisa terjadi pada siapa saja. Namun, wanita mempunyai kemungkinan yang lebih besar karena kondisi hormonalnya.

Apakah Hipertiroid bisa diobati?

Tri mengatakan, bahwa hipertiroid bisa diatasi dengan melakukan operasi, penggunaan radio iodine, dan mengonsumsi obat. Untuk mengonsumsi obat, diperlukan waktu setidaknya sekitar dua tahun. Hal yang perlu diketahui adalah obat mempunyai sifatnya sendiri, dan obat yang diberikan juga tergantung dari kebutuhan pasien. Berbagai macam obat yang diberikan sifatnya menekan produksi dan distribusi hormon dari kelenjar, atau menekan konversi T4 ke T3.
Selain pengobatan, Tri menyarankan pada penderita untuk menjauhi pemicu kelebihan produksi dan distribusi hormon tiroid. Penderita disarankan untuk tidak mengonsumsi garam yang kaya iodin terlalu banyak, serta mulai menerapkan pola hidup yang lebih sehat seperti menghindari rokok dan mengonsumsi banyak buah dan sayuran

Depresi Bikin Cepat Tua?

depresi dan telomer pendekSel-sel dari orang yang mengalami depresi kemungkinan besar akan menua lebih cepat, sebuah studi baru menunjukkan.
Para peneliti asal Belanda membandingkan struktur sel yang disebut telomer (telomere) pada lebih dari 2.400 orang yang mengalami dan tidak mengalami depresi. Telomer membalut ujung kromosom untuk melindungi sel DNA dari kerusakan. Telomer akan menjadi lebih pendek setiap kali sel membelah, sehingga ini bisa menjadi penanda yang berguna terkait penuaan.

Hubungan antara telomer dan depresi

Para peneliti menemukan bahwa telomere dari orang-orang yang pernah mengalami depresi secara signifikan lebih pendek (rata-rata sekitar 83 hingga 84 pasangan basa DNA lebih pendek) dibandingkan dengan mereka yang belum pernah mengalami depresi. Hasil penelitian ditetapkan bahkan setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor gaya hidup yang juga dapat merusak DNA, seperti minum alkohol dan merokok.
Karena secara alami seseorang akan kehilangan sekitar 14-20 pasangan basa DNA dalam telomer setiap tahunnya, para peneliti mengatakan bahwa perbedaan tersebut mewakili sekitar empat hingga enam tahun penuaan lebih cepat.
Hasil penelitian ini hanya menunjukkan hubungan antara depresi dan telomer yang lebih pendek serta tidak membuktikan hubungan sebab-akibat. Para peneliti mengatakan mereka tidak sepenuhnya yakin apakah telomer yang lebih pendek berarti seseorang mengalami depresi.
Di sisi lain, penulis studi Josine Verhoeven mengatakan, bisa jadi bahwa memiliki telomer yang lebih pendek mengantarkan seseorang untuk mengalami masalah mental. Namun itu lebih mungkin bahwa depresi menyebabkan kerusakan yang meninggalkan jejak, bahkan pada tingkat sel, katanya.
Depresi diketahui banyak mengganggu sistem fisik. Depresi dapat mengubah hormon, menekan fungsi kekebalan tubuh, dan mengubah cara saraf bekerja. Orang dengan riwayat depresi memiliki risiko lebih besar untuk terkena penyakit terkait usia, seperti penyakit jantung, diabtes tipe 2, demensia, dan kanker.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan psikologis seperti yang dialami oleh orang-orang depresi mempunyai dampak merugikan yang besar terhadap keausan tubuh seseorang, sehingga penuaan biologis akan menjadi lebih cepat,” ujar Verhoeven yang juga seorang doktor peneliti di VU University Medical Center, Amsterdam.
Penelitian ini dipublikasikan secara online 12 November dalam jurnal Molecular Psychiatry.
Seorang pakar mengatakan bahwa penelitian ini cukup signifikan mengingat besarnya jumlah orang yang terlibat. “Kekuatan dari laporan ini adalah ukurannya,” kata Etienne Sibelle, seorang profesor psikiatri di University of Pittsburgh. Dia mempelajari bagaimana depresi dapat ‘menuakan’ otak. Sibelle mengatakan bahwa penelitian sebelumnya, juga pada pertanyaan yang sama, memiliki hasil yang beragam. Hal ini mungkin karena adanya keterbatasan dalam penelitian untuk mengetahui dampaknya, ditambah lagi kondisi setiap orang tidak semuanya sama.
Sibelle mengatakan, pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah apakah pemendekan telomer benar-benar suatu masalah yang penting dan apakah jika masalah tersebut diatasi bisa meningkatkan kesehatan seseorang? Penelitian lain telah menunjukkan bahwa pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan-makanan sehat, olahraga, dan manajemen stres yang baik ternyata dapat memperpanjang telomer.

Jumlah Pria Perokok Indonesia Adalah Yang Kedua Tertinggi di Dunia

pria perokok indonesiaKendati tren global telah menunjukkan penurunan prevalensi merokok, namun hal ini tampaknya tidak berlaku untuk Indonesia. Indonesia justru mengalami kenaikan yang signifikan selama periode 1980-2012. Adapun jumlah pria perokok di Negeri ini adalah yang kedua tertinggi (57 persen) di dunia setelah Timor Leste (61,1 %). Data ini hadir berdasarkan hasil penelitian baru dari IHME (Institute for Health Metrics and Evaluation).

Jumlah Pria Perokok di Indonesia Naik Dua Kali Lipat

Menurut Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi, seperti yang dilansir dari Kompas Health (10/1/2014), jumlah pria perokok di Indonesia mengalami peningkatan hingga dua kali lipat sejak tahun 1980, di mana prevalensinya tercatat sebagai yang kedua tertinggi di dunia.
Berdasarkan penelitian tersebut, prevalensi kebiasaan merokok masyarakat Indonesia mengalami kecenderungan peningkatan hingga tahun 2012. Diperkirakan sekitar 52 juta orang Indonesia mempunyai kebiasaan merokok.
Secara global, bila dilihat dari sudut usia, prevalensi merokok antara tahun 1980 dan 2012 menunjukkan adanya penurunan sebesar 42 persen pada wanita, dan 25 persen pada pria. Sejak tahun 1980, negara-negara yang telah memangkas angka prevalensi merokok hingga setengahnya adalah Norwegia, Meksiko, Islandia, dan Kanada.
Bagaimana dengan Indonesia?
Sedangkan angka prevalensi merokok di Indonesia cukup menyedihkan. Indonesia adalah satu diantara 12 negara yang menyumbangkan angka sebesar 40 persen dari total jumlah perokok yang ada di seluruh dunia.
Pada tahun 2012, sebanyak 57 persen pria Indonesia dikategorikan sebagai perokok aktif. Angka ini merupakan yang kedua tertinggi di dunia. Lebih dari 50 % pria di beberapa negara seperti Timor Leste, Armenia, Rusia, termasuk Indonesia diketahui mempunyai kebiasaan merokok setiap harinya. Sedangkan angka pria perokok terendah terdapat pada Nigeria (7,5 persen), Sao Tome dan Principe (7 persen), serta Antigua dan Barbuda (5 persen).
Sementara itu, prevalensi merokok pada wanita d Asia Tenggara dan Asia pada tahun 2012 menempatkan Indonesia berada di urutan keenam dengan angka sebesar 3,6 persen. Untuk kategori ini, Indonesia masih berada di bawah Kamboja, Timor-Leste, Myanmar, Filipina, dan Laos, namun masih di atas Malaysia, Vietnam, China, dan Thailand. Sedangkan di level dunia, angka prevalensi wanita merokok yang paling rendah tercatat ada di Maroko, Kamerun, dan Eritrea.
Penelitian ini telah diterbitkan di jurnal American Medical Association pada tanggal 8 Januari dalam edisi khusus yang ditujukan untuk membahas masalah tembakau.

Terlalu Protektif Pada Anak Sebabkan OCD

ocd obsesif kompulsifApakah anda termasuk tipe orang tua yang overprotective terhadap anaknya? Jika ya, sebaiknya anda mulai mengubah sikap tersebut. Hal ini karena pola asuh yang terlalu protektif atau mengekang dapat menyebabkan rasa cemas berlebihan pada si anak. Anak yang tidak berhasil memenuhi tuntutan orang tuanya akan berisiko mengalami gangguan OCD (Obsessive Compulsive Disorder).

Contoh Kasus OCD

Sebagai contoh kasus nyata yang dialami oleh seorang remaja berusia 16 tahun di Surabaya. Remaja ini diketahui mengalami gangguan tersebut (OCD), yang kemudian dibawa ibunya ke poliklinik RSUD dr Soetomo Surabaya untuk diperiksakan kondisi psikologisnya.
Adapun keluhannya meliputi sering mencabuti rambut hingga kepala botak, menggigit kuku hingga jarinya terluka, serta sering mencuci tangannya setelah menyentuh benda atau bersalaman dengan orang lain. Dokter Yunias Setiawati SpKJ yang menangani pasien tersebut menyebutkan jika keluhan pasien akan bertambah ketika menghadapi suatu masalah. Misalnya adalah ketika pasien sedang menghadapi berbagai tugas berat di sekolah. Hal ini membuat keluhannya semakin bertambah, bahkan remaja tersebut mandi berulang kali dalam sehari dan susah untuk tidur.
Pasien tersebut sebenarnya menyadari jika perilakunya tidak wajar, namun dia tidak bisa menghentikannya. Rasa cemas yang dialami pasien tersebut akan mereda setelah mencuci tangan dan mencabut rambutnya. Oleh karena itu, pasien ini datang ke dokter Yunias untuk meminta bantuan dalam menghentikan kebiasaannya tersebut.
Yunias pun melakukan wawancara secara mendalam kepada pasien tersebut dan ibunya. Setelah diwawancara, diketahui fakta bahwa ibunya adalah orang yang sangat teliti dan pembersih. Ibunya juga sering melarangnya untuk bermain yang kotor-kotor. Di sisi lain, ayahnya adalah sosok pekerja keras, di mana semua pekerjaannya harus selesai dengan sempurna dan tepat waktu. Ayahnya juga sering memarahi pasien bila nilai pelajarannya buruk dan tidak sesuai harapan. Yunias mengatakan bahwa itu hanya salah satu contoh dari sekian banyak kasus pasien yang mengalami OCD.

Obsesif dan Kompulsif

Obsesif merupakan gangguan gagasan, proses pemikiran yang disadari terjadi berulang-ulang, namun tidak dapat dilawan. Gangguan tersebut juga tidak rasional. Sedangkan kompulsif adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan secara berulang dengan tujuan untuk meredakan rasa cemas akibat pikiran obsesif.
Sebanyak 1-2 persen dari gangguan obsesif-kompulsif dimulai pada masa kanak-kanak. Di Poliklinik kejiwaan Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya, setidaknya ada sekitar 3 hingga 5 pasien setiap harinya yang membutuhkan penangangan akibat gangguan tersebut. OCD bisa dialami oleh siapa saja, baik perempuan ataupun laki-laki dengan sosio-ekonomi menengah.

Overprotective dan OCD

Salah satu hal yang melatarbelakangi seseorang mengalami OCD adalah terlalu protektifnya pola asuh orang tua, seperti selalu mengatur anak, perfeksionis, dan pembersih. Pola asuh semacam ini dapat menimbulkan kecemasan pada anak. Tuntutan yang berlebihan dapat menyebabkan kegagalan pada anak untuk memenuhi harapan atau ekspektasi orang tua, sehingga pada akhirnya menimbulkan gangguan tersebut

Mengetahui Penyebab Sakit Telinga : Akibat Pilek atau Infeksi?

sakit telingaNyeri pada telinga dapat disebabkan oleh pilek, infeksi telinga, atau bahkan keduanya. Mengetahui penyebab sakit telinga yang anda alami akan membantu mendapatkan pengobatan yang tepat.
Saat anda mengalami batuk, bersin, hidung berair (ingus), biasanya anda juga akan merasakan sakit pada telinga. Mendapatkan ‘paket’ komplit tersebut tentu bukanlah pengalaman yang menyenangkan . Terkait masalah sakit telinga, anda harus mengetahui terlebih dahulu, apakah nyeri yang anda rasakan berhubungan dengan gejala pilek atau memang benar-benar merupakan infeksi telinga.

Ketika Gejala Pilek Disertai dengan Sakit Telinga

“Ketika pilek, anda juga bisa mengalami sakit pada telinga karena gendang telinga akan mengalami peradangan akibat infeksi virus,” ujar Richard Rosenfeld, Md, MPH, juru bicara dari American Academy of Otolaryngology, seperti yang dilansir dari Everydayhealth.
Karena pilek disebabkan oleh virus, maka hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengobati gejala tersebut. Ibuprofen (Motrin, Advil) atau Acetaminophen (Tylenol) bisa membantu meringankan sakit telinga yang terjadi. Anda juga bisa berkonsultasi kepada dokter mengenai obat lainnya yang tepat untuk anda.
Pada beberapa orang, terutama anak-anak di bawah umur 8 tahun dan orang-orang dewasa yang merokok, infeksi dapat terjadi di dalam telinga saat bakteri penyebab cairan dan nanah mengisi area atau ruang di belakang gendang telinga. Dalam banyak kasus, hal tersebut mungkin terlihat mirip dengan gejala infeksi telinga, kecuali rasa sakit tiba-tiba muncul dan akan lebih terasa parah dari sebelumnya.

Sakit telinga karena Infeksi Telinga

Untuk masalah ini, dokter biasanya menyebutnya dengan infeksi telinga otitis media akut atau Acute Otitis Media (AOM). Tanda-tanda bahwa seseorang memiliki infeksi telinga dibandingkan sakit telinga yang terjadi bersamaan dengan pilek adalah :
  • Nyeri tidak hilang dengan gejala-gejala pilek lainnya.
  • Pendengaran akan semakin menurun. “Hilangnya pendengaran akibat infeksi telinga biasanya ringan, setara dengan menempatkan earplug di telinga anda,” kata Dr Rosenfeld.
  • Anda mungkin mengalami demam.
  • Rasa nyeri terasa lebih intens.
Banyak infeksi telinga yang disebabkan oleh bakteri, dan kondisi ini bisa diobati dengan antibiotik. Apabila anda memiliki infeksi telinga, ada kemungkinannya anda akan mengalami sulit tidur, pusing, hingga demam.

Mendiagnosa Sakit Telinga

Untuk mengetahui apakah telinga anda memiliki infeksi, biasanya dokter akan menggunakan otoscope untuk mencari tanda-tanda infeksi dalam telinga seperti :
  • Menonjolnya gendang telinga akibat cairan dan nanah di belakang gendang telinga. Cairan tersebut dinamakan ‘efusi’.
  • Gendang telinga kurang merespon secara fleksibel dari biasanya; hal ini diperiksa menggunakan otoscope pneumatik.
  • Gendang telinga terlihat gelap atau samar-samar. “Biasanya gendang telinga tampak seperti tirai shower”, kata Rosenfeld.
  • Kadang-kadang kehilangan pendengaran, namun Rosenfeld mengatakan bahwa tes pendengaran tidak bisa membantu mendiagnosis infeksi telinga.

Pasca Pengobatan Infeksi Telinga

Setelah mengobati infeksi telinga dengan antibiotik, telinga anda mungkin masih memiliki cairan di belakang gendang telinga. “Hal tersebut adalah sesuatu yang alami terkait infeksi telinga, di mana seseorang masih memiliki cairan tersisa di telinganya selama beberapa minggu hingga beberapa bulan sebagai bagian dari fase penyembuhan,” jelas Rosenfeld. Namun apabila beberapa bulan telah berlalu dan anda masih memiliki masalah dengan pendengaran, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk melakukan tes pendengaran.